25 Oleh-oleh Khas Aceh yang Paling Menarik Wisatawan

Aceh atau Banda Aceh dikenal sebagai kota yang Islam yang paling tua di Asia Tenggara, sebagaimana disebutkan dalam Wikipedia. Menjadi sebuah kota dengan peradaban Islam yang cukup maju membuat Aceh menyimpan daya tarik tersendiri yang menyebabkan banyak orang menaruh minat untuk mengunjungi kota berjuluk Serambi Mekah itu suatu hari.

Apabila ingin liburan dengan kesan yang berbeda, maka jangan sampai melewatkan kota Banda Aceh. Selain bisa menjelajahi sejumlah situs-situs bernuansa Islami yang megah dan bersejarah, Aceh memberikan banyak pilihan buah tangan untuk para pelancong dari luar Sumatera. Penasaran? Berikut ini oleh-oleh khas Aceh yang sering diburu oleh wisatawan hasil pantauan MakananOlehOleh.com.

1. Rencong

Senjata tradisional khas suku Aceh yang paling terkenal adalah rencong. Selain sebagai alat untuk bertempur, ternyata juga melambangkan keberanian, identitas diri, dan ketangguhan dari para pemiliknya. Bahkan pada masa kesultanan Aceh, rencong selalu diselipkan oleh para raja dan pembesar istana di pinggang mereka. Selain sebagai alat untuk menyerang juga sebagai pelambang wibawa para raja.

Selain itu, rencong juga kerap menjadi aksesoris tambahan bagi mempelai pria saat melangsungkan akad nikah untuk menambah kewibawaanya. Bahkan, ada rencong yang terbuat dari emas asli dengan penggalan tulisan ayat suci Al Quran yang ditulis pada mata pedangnya. Namun sekarang ini rencong lebih sering dibuat dengan kuningan, besi putih, dan kayu sebagai oleh-oleh atau untuk pajangan dan untuk digunakan pengantin laki-laki.

2. Perhiasan Pinto Aceh

Pinto aceh adalah motif perhiasaan yang awal mulanya ditemukan oleh seniman asal Aceh kala itu, Mahmud Ibrahim yang juga ahli pandai besi. Mahmud Ibrahim membuat karyanya karena terinspirasi dari monumen peninggalan raja Aceh, Iskandar Muda yang berbentuk monumen. Ada juga yang mengatakan bahwa bangunan tersebut menjadi tempat keluar masuknya para permaisuri dan dayang raja dari dan ke sungai di dekat monumen tersebut.

Saking indahnya pinto aceh, pada masa awal pembuatannya harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan tidak sembarang orang dapat membuatnya. Hal ini karena perlu adanya keterampilan membuat pinto aceh yang tinggi. Sedikit demi sedikit banyak yang mampu membuatnya, bahkan tidak hanya orang Aceh sendiri, luar Aceh khususnya Jawa juga sanggup membuatnya.

Asal rencong memang dari daerah Pinto Khop, namun karena keindahannya, kini dapat ditemukan di berbagai tempat yang dapat dijadikan sebagai oleh-oleh khas Aceh. Jangan khawatir jika motif pinto aceh yang hanya itu-itu saja, karena sekarang terdapat berbagai bentuk pinto aceh berupa aksesoris seperti cincin, kalung, gelang, peniti, bahkan dibuat varian baru pada kemeja, jilbab, hingga kopiah.

3. Songket Aceh

Sama halnya dengan batik yang telah tersebar di seluruh penjuru Indonesia bahkan negara tetangga, songket juga seperti itu, hampir setiap daerah rumpun Melayu memilikinya, tak terkecuali Aceh. Hal ini dikarenakan kerajaan Sriwijaya sebagai pembawanya menyebarkan cara membuat songket ke wilayah-wilayahnya. Pembuatan kain songket sendiri dibuat dengan cara ditenun menggunakan alat dari kayu. Penenunan tersebut harus menggunakan benang beraneka warna untuk menciptakan motif dan bentuk yang diinginkan.

Sebagai kain tradisional, songket Aceh tidak hanya diburu untuk keperluan koleksi saja, melainkan kebanyakan dibeli untuk dimanfaatkan. Misalnya adalah kain songket berupa pakaian, tak terkecuali pakaian adat, hiasan meja atau taplak, hiasan dinding, dan bentuk lainnya. Kain dengan arti mengait dari bahasa Melayu ini tercatat memiliki motif beraneka ragam, namun didominasi oleh motif bewarna emas dan perak, sesuai warna benang yang paling sering digunakan.

4. Kupiah Meukeutop

Kupiah Meukeutop adalah salah satu jenis peci yang sekarang ini kerap dikenakan oleh para mempelai pria kota serami mekah dalam pernikahan yang mereka laksanakan. Lebih jauh lagi, dulunya kupiah ini hanya boleh dipakai oleh para pembesar istana alias raja atau para bangsawan.

Pahlawan Indonesia asal Aceh, yaitu Teuku Umar menjadikan kupiah Meukeutop sebagai aksesoris favoritnya. Selain dinamakan Meukeutop, banyak orang menyebut oleh-oleh khas Aceh ini dengan nama yang berbeda seperti kupiah Tungkop karena terdapat tugu kupiah tungkop yang juga berada di daerah bernama Tungkop, Pidie.

Kupiah ini sering dipakai oleh para raja kala itu karena memiliki maksud di dalamnya. Secera keseluruhan, kupiah ini memiliki 4 bagian dengan makna yang berbeda-beda antara satu bagian dengan lainnya. Empat bagian tadi melambangkan hukum, adat, qanun, dan reusam sehingga harus dipakai di kepala agar diharapkan pemakainya menjunjung tinggi hal tersebut.

Begitu pula dengan sekarang, para penganting yang mengenakannya juga harus bisa bisa melaksanakan aturan di atas saat nanti berumah tangga. Ada juga aksesoris penunjang yang bisa didapatkan, misalnya kalung dan bros serta senjata tradisional aceh, Rencong.

5. Kupiah Riman

Selain Meukeutop, ada juga kupiah riman yang berasal dari daerah Pidie dan dulunya sering digunakan oleh para petinggi maupun bangsawan, khusunya yang dari Pidie. Tidak hanya digunakan untuk ibadah sholat saja, kupiah atau peci ini juga sering dikenakan saat acara formal maupun non formal.

Sebut saja para pejabat Aceh yang tak ketinggalan menggunakannya sebagai penutup kepala mereka saat ada acara maupun sedang santai. Pada zaman sekarang ini, kupiah riman tetap menjadi aksesoris yang digunakan orang-orang Aceh khususnya saat ibadah ke masjid.

Tidak main-main, waktu pembuatannya bisa sampai berhari-hari walaupun dilakukan oleh orang yang professional dalam masalah pembuatannya. Bahan yang digunakan untuk membuat oleh-oleh khas Aceh ini adalah bulu ijuk (enau) namun terlebih dahulu direndam selama beberapa hari sebelum akhirnya dibentuk menjadi kupiah dengan cara tertentu.

6. Tas Motif Aceh

Kebanyakan tas yang dijumpai sekarang ini adalah polos, walaupun ada beberapa tas yang diberi gambar, namun biasanya tas tersebut untuk anak-anak. Jika bosan akan tas seperti itu, maka tas motif Aceh adalah salah satu alternatif tas karena memiliki motif khas dari Aceh.

Apalagi pembuatannya yang memperhatikan kualitas, sehingga hasilnya adalah tas halus dengan pembentukan motif yang rapi. Hal ini memang wajar karena pembuatannya dilakukan dengan mesin bordir dan pengrajin berpengalaman dalam bidangnya.

Sebagai salah satu sentra kerajinan tangan dan pusat oleh-oleh, kawasan Ule Madon, Muara Batu, Aceh Utara telah menyediakan ribuan tas dari berbagai toko yang berbeda. Apalagi setiap tas yang dibuat memiliki bentuk dan jenis yang berbeda, sehingga pemilihnya akan bingung sendiri.

Terdapat jenis tas seperti tas gendong, tas laptop, tas selempang, tas tangan, dan beraneka macam tas ada di sana. Dengan keunikan motif Aceh, rasanya harga ratusan ribu tak jadi masalah untuk pembelian tas yang memdukan budaya dengan barang sehari-hari ini.

7. Ija Kroeng

Sebagai pakaian yang sangat mencerminkan umat Islam Indonesia, sarung selalu diminati banyak orang, salah satunya yang dari Aceh, Ija Kroeng. Selain dapat digunakan dalam kegiatan ibadah utamanya sholat dan mengaji, sarung juga menjadi alat serbaguna, untuk selimut misalnya. Kelebihan dari Ija Kroeng adalah jenis sarung ini dibuat dengan metode home made dan menggunakan kain katun seluruhnya sebagai bahan baku pembuatan.

Bahkan katun tersebut di datangkan langsung dari India namun proses penenunannya dilakukan di daerah Tangerang sebelum nantinya dikirim ke Aceh untuk dijadikan sarung serta dipasarkan ke konsumen. Sarung ini diproduksi dengan warna utama hitam dan putih dan sangat cocok bagi orang dewasa maupun anak-anak.

Harga dari oleh-oleh khas Aceh ini tidak mahal-mahal amat, yakni berkisar 117 ribu untuk anak-anak dan 162 ribu bagi orang dewasa. Ada juga versi limited edition pada hari-hari tertentu seperti Idul Fitri dengan memberi sentuhan warna yang berbeda dari sebelumnya, yaitu hijau pupus, merah bata, dan abu-abu muda dengan harga yang lebih mahal tentunya.

8. Sulam Kasab

Sulam Kasab adalah jenis sulaman dari Aceh yang ditempatkan pada berbagai aksesoris rumah tangga seperti tudung saji, payung, hiasan dinding maupun hiasan di atas pintu. Walaupun awalnya hanya mengunakan benang warna emas dan perak, namun di era modern sekarang ini, berbagai ragam warna telah banyak dibubuhkan pada media sulaman.

Selain itu, para pengrajin asli Aceh yang membuatnya selalu menggunakan metode hand made yang kerap dilakukan oleh para ibu rumah tangga untuk menambah pendapatan keluarga. Untuk motifnya sampai saat ini telah beragam, namun yang paling umum dijumpai adalah motif jenis burung, daun, dan bunga-bungaan.

Dalam proses pembuatannya tidaklah mudah, karena perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam memasukkan benang dan menjadikan motif yang sempurna seperti yang diinginkan. Karena sudah sangat populer, kalian dapat menjumpai sulaman kasab di berbagai toko souvenir di Aceh.

9. Kerawang Gayo

Kerawang gayo adalah salah satu kesenian masyarakat Aceh dengan memberikan senuhan motif pada benda maupun aksesoris. Saat ini telah banyak motif yang dapat dijumpai pada kesenian yang telah dikenal lama oleh para masyarakat Dataran Gayo ini.

Sebut saja motif awan berangkat, pagar, tali berputar, pucuk rebung, bunga kapas, dan telapak kaki sulaiman yang kerap dibuat oleh masyarakat. Walaupun di kabupaten asalnya yaitu Gayo Lues hanya ada 8 pengrajin, namun kreatifitas mereka semakin menjadi-jadi.

Sekarang ini kerajinan tangan asal tanah Gayo ini tidak hanya dibuat pada pakaian adat khas Aceh saja, melainkan di berbagai aksesoris yang kerap dibeli oleh para pelancong misalnya ransel, gelang, taplak meja, selendang, kotak tisu, bahkan sendal dan hiasan dinding.

Harganya tergolong murah, mulai dari 15 ribu untuk satu jenisnya hingga yang bernilai ratusan ribu rupiah. Namun ada harga pasti ada kualitas, yang berharga mahal tentu memiliki tingkat kesulitan dan kerumitan yang lebih. Bahkan salah satu penyanyi terkenal tanah air, Iwan Fals sempat beberapa kali mengenakan Cindera Mata ini.

10. Batik Aceh

Batik adalah jenis kebudayaan di Indonesia yang telah tersebar di penjuru Nusantara, tidak hanya Batik Jawa yang sudah terkenal, ada juga Batik Aceh yang sudah ada sejak zama kerjaan, abad 13 M. Hal ini dibuktikan dengan berbagai macam batu nisan raja-raja Aceh tepatnya yang berbentuk batik.

Sekarang ini batik ceh telah memiliki banyak motif yang sarat akan makna. Setiap motifnya dikatakan memiliki makna tersirat yang berbeda antar satu dengan yang lain. Ada motif senjata tradisional Aceh, Rencong serta motif-motif lainnya, sebut saja Bunga Jempa, Awan bergerak, Pucuk rebung, pintu Aceh, Gayo, dan masih ada motif-motif lain yang juga indah mempesona.

Namun uniknya tidak ada motif hewan sama sekali pada Batik Aceh. Salah satu motifnya adalah pintu Aceh, yang maksudnya adalah saat ada orang yang bertamu harus menundukan kepalanya sebagai rasa hormat, mengingat pintu Aceh memiliki ketinggian yang tidak terlalu tinggi.

11. Peudeung

Selain Rencong yang sudah sangat terkenal, ada lagi senjata khas Aceh yang menjadi alat untuk memperlengkap Rencong, dia adalah Peudeung yang digunakan untuk mencincang. Berbeda dengan rencong yang biasanya dipakai untuk menikam musuh. Untuk membedakan antara satu jenis dengan jenis yang lain, maka perlu diketahui bilah atau mata pedang tersebut.

Ada bermacam-macam bentuk pedang yang populer di kalangan masyarakat Aceh, seperti Peudeung Tumpang Jingki yang memiliki panjang sekitar 70 cm dengan gagang berbentuk mulut yang terbuka dan biasa dibuat dari tanduk dan mata pedangnya dari besi.

Ada juga Peudeung Ulee Meu-apet yang diistimewakan karena dianggap memiliki kekuatan spiritual, sehingga hanya dibuka dari penutupnya saat acara tertentu. Bedanya dari pedang lain adalah karena jenis ini menggunakan sejenis penahan di gagangnya.

Lalu ada Peudeueng Ulee Tapak Guda yang berbentuk telapak kaki kuda pada bagian gagang yang dibuat dari tanduk. Sedang mata pedangnya dari besi dan total panjangnya 72 cm. Ada banyak jenis lain seperti Zulpaka, Ulee Iku Mie (gagangnya seperti ekor kucing), Ulee Iku Itek (gagangya meyerupai ekor bebek), Ulee Babah Buya (bentuk gagang mirip mulut buaya), dan Lapan Sago (berbentuk segi delapan pada gagagnya).

12. Siwah

Senjata ketiga masyarakat Aceh selain Rencong dan Peudeng adalah Siwah yang juga berbentuk mirip rencong. Perbedaan yang mencolok antara Siwah dan rencong ada pada ukuran dan panjangnya. Untuk siwah memiliki ukuran yang lebih besar dan juga memiliki panjang yang lebih tinggi. Selain digunakan untuk mengusir penjajah, siwah juga digunakan sebagai aksesoris bagi orang-orang yang ada di kerajaan.

Saking berharganya barang ini, banyak yang dibuat menggunakan emas asli yang pasti mahal harganya. Hingga sampai sati ini benda ini memiliki harga jual yang tinggi karena sudah sulit untuk menemukannya dan mungkin hanya tersisa beberapa biji saja di dunia. Selain karena kelangkaannya, juga karena Siwah dibuat dengan sangat mewah. Sebut saja yang dari dibuat dari emas, namun ada juga yang ditambah jenis permata yang ditaruh pada gagang dan sarung penutupnya.

13. Serune Kalee

Serune Kalee adalah alat musik khas dari Aceh yang berbentuk mirip terompet dan dengan ditiup untuk mengeluarkan bunyinya. Tidak hanya digunakan sebagai alat untuk menghivur diri, Serune Kalee juga kerap dibunyikan pada acara pernikahan,g menyambut tamu, dan pembukaan atau peresmian proyek tertentu. Biasanya alat musik tradisional ini dibuat menggunakan bahan utama kayu yang telah direndam selam tiga bulan.

Serune Kalee juga mengandung nilai-nilai pembelajaran yang bisa dihayati, misalnya pada nilai budaya, karena alat ini adalah budaya dari Aceh yang harus dipertahankan. Ada juga nilai seni karena pembuatannya cukup lama dan hanya tangan terampil yang bisa membuatnya. Proses membunyikannya juga berbeda dengan terompet, begitu pula dengan bunyi yang dihasilkan.

14. Boneka Pengantin

Dibuat dengan bentuk menyerupai mempelai pria atau wanita Aceh yang sedang melangsungkan pernikahan menggunakan baju adat Aceh. Souvenir yang satu ini dibuat menggunakan bahan kain flannel yang indah dengan hasilnya memiliki ukuran kira-kira 19 cm x 13 cm. Baju yang dikenakan memiliki warna hitam dan dipadu dengan warna coklat untuk bagian bawahnya. Untuk yang pria ditambah dengan peci sedangkan yang wanita ditambah dengan selendang yang terlilit di leher.

Harganya yang murah yaitu 18 ribu / pcs bisa menjadi kado terindah bagi pasangan yang berbahagia saat melangsungkan pernikahan. Entah itu diberikan kepada pasangan maupun kepada teman bahkan kepada keluarga yang tengah menikah. Dengan hasil yang memukau ditambah memiliki keunikan tersendiri, rasanya sangat cocok jika dibeli sebgai hadiah.

15. Dompet

Bagi para wanita yang sedang melakukan perjalanan travelling ke provinsi paling barat di Indonesia ini, tidak ada salahnya kan untuk membeli dompet cantik khas Aceh. Keunikan dari dompet ini adalah memiliki hiasan dengan motif khas dari Aceh yang di bordir di bagian sampingnya. Tidak hanya itu saja, dimpet ini juga akan sangat pas bagi kalian yang ingin emnyimpan uang maupun barang lain ke dalamnya karena bentuknya cukup simpel.

Namun dengan ukuran yang relatif kecil, bisa juga ditempatkan di dalam tas dan sangat mudah dibawa kemana-mana. Harga untuk setiap satuan souvenir ini beragam, dimulai dengan yang paling murah sekitar 10 ribu hingga yang memiliki harga ratusan ribu tergantung motif, model, dan tingkat kerumitan dalam membuatnya. Souvenir ini dapat dengan mudah dijumpai di toko-toko souvenir Aceh atau jika ingin melihat cara membuatnya bisa langsung ke tempat pembuataanya tepatnya di kawasan Darul Imarah, Aceh Besar.

16. Kopi Aceh

Pasti sudah banyak yang mendengar kopi Aceh yang memang sudah terkenal hingga ke penjuru dunia. Di sana telah muncul berbagai merek kopi namun kebanyakan adalah jenis kopi Arabica dan Robusta karena kedua jenis itu sangat mudah tumbuh di kawasan Aceh. Kelebihan kopi dari daerah ini memiliki rasa yang kuat dan punya aroma yang nikmat serta cita rasa yang berbeda dari kopi-kopi lain.

Untuk jenis kopi Robusta ada salah satu kopi yang sangat digemari oleh masyarakat asli maupun para pelancong, yaitu kopi Ulee Kareng yang menggunakan 100 persen biji kopi asli. Proses pembuatannya dilakukan dengan sangat hati-hati sehingga menimbulkan rasa yang khas dan kualitas tetap terjamin sampai masuk ke kerongkongan.

Ada juga kopi Aceh Gayo yang menggunakan bahan utamanya yaitu biji kopi arabica seluruhnya. Sesuai namanya, kopi ini berasal dari daerah dataran tinggi Gayo karena disana sangat subur tanaman kopi, khususnya Arabica. Dengan rasa yang sudah terkenal, rasanya sangat cocok dijadikan oleh-oleh. Ada juga kopi lain yang memiliki rasa tak kalah dari dua jenis kopi di atas, dia adalah meulaboh Aceh yang umumnya disajikan dengan cara ditarik (kopi tarik) maupun dibalik.

17. Keukarah

Salah satu cemilan yang paling tepat untuk menemani menyantap kopi Aceh adalah Keukarah. Oleh-oleh makanan khas Aceh ini memiliki rasa yang manis dan renyah karena terbuat dari tepung beras yang ditambah gula. Bentuknya sangat unik, karena memiliki warna kecoklat-coklatan dengan bentuk seperti jaring yang melingkar. Kue kering dari tanah rencong ini dibuat menggunakan cetakan untuk mendapatkan bentuk bulat sempurna.

Karena rasanya yang enak dan memiliki aroma khas karamel, membuatnya banyak diburu oleh orang-orang. Hingga kini telah menjamur berbagai toko yang menyediakan Keukarah sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke kampung halaman. Jika kalian tidak menemukan tulisan Keukarah, tak perlu khawatir karena kue ini memiliki nama lain yakni kue sarang burung atau eumpueng miriek.

18. Kue Bhoi

Selain keukarah, ada juga kue bhoi yang menjadi teman masyarakat Aceh dalam meminum kopi. Kue yang satu ini adalah jenis bolu yang memiliki bentuk beraneka ragam sesuai cetakan yang digunakan oleh pembuatnya. Namun umum bagi warga sekitar membuatnya adalam bentuk ikan, bunga, dan bintang.

Rasanya tidak terlalu manis namun sangat lezat di lidah, apalagi saat mencelupkan kue bhoi dengan kopi, rasanya pasti bertambah enak. Seperti kebanyakan bolu, kue bhoi juga memiliki tekstur yang lembut di dalam dan agak kasar di luar. Selain dibuat sebagai santapan, bolu dari provinsi dengan semboyan Pancacita ini juga kerap digunakan dalam acara seserahan pengantin.

Ada juga yang membuatnya untuk diberikan kepada sanak saudara dan acara hajatan seperti khitanan dan acara kelahiran. Sebenarnya kue bhoi dengan bolu lain tidak ada bedanya dalm hal bahan, bedanya hanyalah cetakn yang digunakan dan berbagai variasi pemasakan. Kini kue bhoi dapat ditemui di berbagai tempat yang menyediakan oleh-oleh, apalagi kue bhoi mampu tahan selama 1 bulan, sehingga walaupun perjalanan jauh ke rumah, bolu ini akan tetap awet.

19. Dendeng

Walaupun banyak daerah yang juga memiliki oleh dendeng, namun di Aceh dendeng di buat dari daging sapi maupun daging rusa segar dengan resep yang sudah ada turun temurun dari nenek moyang. Menurut Sejarah makanan ini di Provinsi dengan ibukota Banda Aceh tersebut sudah ada sejak zaman dahulu. Bahkan kerap digunakan oleh para pelaut menjadi makanan pengganjal perut ketika berhari-hari mengarungi samudera.

Dendeng di sana memiliki variasi rasa yang beragam, mulai dari rasa manis, asin, hingga kari sering sekali dibuat. Cara pembuatannya adalah dengan menjemur hasil irisan daging sapi maupun rusa sampai benar-benar kering. Kemudian dicampur oleh rempah-rempah yang khas sebelum akhirnya digoreng.

Karena dendeng memang dibuat jika sudah benar-benar kering, membuatnya bisa bertahan tiga bulan. Jadi jika membawanya pulang, santai saja karena dendeng akan sulit membusuk. Untuk harga setiap satu kilogramnya dihargai sebesar 200 ribu rupiah untuk yang daging sapi, sedangkan yang rusa lebih mahal 100 ribu.

20. Keripik Saree

Jajanan ini kerap diperdagangkan di pinggir-pinggir jalam maupun rest area di jalan Aceh – Medan. Berbentuk keripik, pasti sudah sangat tidak asing bagi kalian semua. Rasanya yang renyah membuat banyak orang yang ingin berebut untuk mendapat keripik Kawasan Saree ini. Untuk mendapatkan penjual keripik yang berbeda di Saree, maka pergilah ke tempat penjualan Keripik Cek Sam yang bisa ditemui di jejeran pedagang di kawasan Saree.

Ciri khas dari Cak sam adalah proses pembuatan keripiknya dilakukan langsung di tempat. Sehingga para pembeli bisa langsung melihat proses penggorengan keripik singkong rasa gurih asli Aceh tersebut. Tidak hanya Cak sam, masih banyak lagi penjual keripik yang bisa dijadikan oleh-oleh, harganya juga beragam ada yang mematok harga 5 ribu bahkan 20 ribu pada 1 kg kemasan. Ada juga variasi keripik lain, tidak hanya keripik singkong, ada juga keripik jagung atau keripik sambal.

21. Kue Adee Kak Nah

Kue Adee menjadi salah satu jajanan tradisional khas Aceh yang sampai saat ini masih bertahan di pasaran. Kue Adee memiliki dua varian dalam hal bahan dan cara mengolahnya. Variasi olehan tersebut adalah adee tepung yang dibuat menggunakan bahan dasar tepung terigu sedangkan yang satunya adee ubi yang menjadikan singkong sebagai bahan utamanya.

Membuatnya tidaklah sulit, karena hanya memerlukan terigu atau parutan singkong lalu ditambah gula, telur dan air daun pandan kamudian di masukkan ke loyang lalu di oven sebelum nantinya siap disantap. Namun jika ingin memakan yang sudah terbukti kualitasnya, maka jangan lupa mampir ke toko Kue Adee Kak Nah yang dibuat secara home industry atau usaha rumahan.

Sebagain informasi saja, toko kue Adee Kak Nah adalah toko kue yang menjual oleh-oleh dari Banda Aceh yang diprakarsai oleh Hj. Rosna H Yahya pada tahun 1982, kini kue Adee kak Nah telah dipasarkan menggunakan balutan kotak lengkap dengan tulisan kak Nah di luarnya. Dengan cita rasa yang enak, membuat merek ini kerap dicari oleh banyak orang.

22. Kembang Loyang

Walaupun Kembang Loyang sebagai salah satu olahan yang sangat akrab dengan warga desa, namun makanan ini memilki cita rasa yang enak. Hal ini dapat dibuktikan dengan kerap disediakannya kue ini pada acara-acara besar keagamaan, seperti lebaran maupun acara kekeluargan atau kumpul keluarga. Bentuknya sangatlah unik, karena berbentuk bulat kemudian terdapat ruji-ruji yang mengelilingi seperti kipas angin.

Bahan dasar dalam membuat oleh-oleh khas Banda Aceh adalah tepung roti yang nantinya akan dicampurkan dengan bahan lain berupa gula, telur, dan pati santan. Setelah adonan siap, kemudian adonan diratakan dengan cara di aduk dan tekan cetakan pada setiap hasil adonan sehingga akan membentuk Kembang loyang. Terakhir adalah proses penggorengan, hasil cetakan tadi dimasukkan ke dalam wajan untuk digoreng.

23. Sale Pisang

Sale pisang tidak hanya dijumpai di Aceh saja, melainkan di beberapa kawasan Indonesia, banyak yang memiliki olahan sale. Namun yang membedakannya dengan sale asal Aceh adalah cara pemasakan yang berbeda. Cara membuatnya adalah dengan terlebih dahulu mengupas pisang matang dari kulitnya lalu dijemur sampai garing. Jika sudah, pisang akan diasapi terlebih dahulu baru kemudian dilumuri gula tebu. Sebenarnya sampai disini sudah bisa dimakan, namun bisa juga digoreng kembali menggunakan tepung agar lebih renyah.

Selain rasanya yang enak dan punya cita rasa yang khas, sale ini juga memiliki kandingan gizi yang cukup tinggi dan akan sangat baik bagi kesehatan tubuh. Selain memiliki kandungan serat yang tinggi, pisang sale juga memiliki kandungan mineral, fosfor, kalsium, zat besi, kalium, dan magnesium. Jika tanpa digoreng, kandungan lemaknya akan sedikit. Jangan takut jika kalian membawanya pulang, karena sale sangat awet tanpa pengawet buatan. Hal ini dikarenakan pertumbuhan bakteri akan sulit dalam keadaan kering atau terasapi.

24. Ikan Kayu

Ikan kayu memiliki sejarah kelam pada masa awal ditemukannya. Hal ini terjadi karena ikan kayu lahir pada masa Aceh dilanda perang yang tidak selesai-selesai, sehingga rakyatnya mengalami krisis makanan. Namun muncullah ide membuat ikan kayu dari ikan tongkol yang digarami sehingga menjadikannya awet tahan lama sampai dua tahun.

Pembuatannya juga lama, karena memakan waktu 3 sampai 4 hari untuk mendapatkan hasil olahan yang baik. Dibuat dengan cara ditaburi garam dahulu lalu direbus dan dibuang tulang yang menempul. Kemudian menjemur ikan tongkol sampai kering, seterusnya dirajang dan nantinya dijemur kembali.

Walaupun proses yang cukup lama, namun cita rasa dari ikan tongkol yang enak membuatnya semakin digemari. Walaupun dua tahun dibiarkan namun rasanya tetap gurih. Dewasa ini, terdapat Gallery Balee Inong yang menjual ikan kayu dengan varian yang unik.

Ikan kayu yang siap, kemudian di packing ke dalam wadah sebelum akhirnya dijual sebagai oleh-oleh khas daerah Aceh. Dalam kemasan tadi, sudah terdapat cara mengolahnya dan juga bumbu. Ada juga jenis ikan kayu kaleng dan ikan kayu crispy yang dapat kalian temui di Gallery Balee Inong tepat di depan tempat wisata boat di atas rumah.

25. Socolatte

Socolatte adalah makanan yang diolah menggunakan bahan dasar kakao atau tanaman coklat. Walaupun masih tergolong baru di Aceh yakni ada pada 2010, mamun Socolatte kini telah berkembang dan diminati oleh banyak orang. Terlebih lagi olahan dari coklat tersebut sangatlah beragam, mulai dari bubuk, permen, cemilan, hingga menimun dari coklat tersedia di sana. Sudah pasti rasa yang ditawarkan adalah rasa yang manis dengan berbagai gizi yang menyertainya.

Kelebihan dari produk ini adalah pembuatannya dilakukan dengan menggunakan tenaga wanita Aceh dan bahan-bahannya seperti kakao, juga merupakan hasil dari petani Aceh. Selain dikerjakan oleh manusia, beberapa kegiatan dilakukan oleh mesin canggih. Untuk merasakan kenikmatan Socolatte yang belum ada di daerah lainnya, dapat dikunjungi pabriknya yang berada di Jalan Banda Aceh Medan, Km 138, Baroh Musa, Bandar Baru, Pidie Jaya, Aceh.

Liburan ke Kota Serambi Mekkah belum lengkap jika kembali tanpa membawa buah tangan. Untuk itu, jangan sampai kamu melewatkan satu atau dua macam oleh-oleh khas Aceh tersebut. Ada banyak pilihan untuk kamu, mulai dari makanan hingga pernak-pernik cantik untuk hiasan, gantungan, dan masih banyak lagi jenisnya dengan fungsinya masing-masing.

Leave a Reply