26 Makanan Khas Jogja Selain Gudeg yang Wajib Dicoba

Kota Yogyakarta atau Jogja ibarat kota ajaib yang selalu meninggalkan coretan rindu di setiap hati manusia yang pernah datang mengunjunginya. Panorama alam yang indah ditambah kekayaan budaya yang tersimpan di kota berjuluk Kota Pariwisata ini membuat setiap orang selalu ingin singgah selama beberapa waktu. Banyak hal yang bisa dinikmati selama berada di Jogja, alamnya yang mempesona, budayanya yang beragam, hingga kekayaan kulinernya yang menggoda selera.

Tak ada orang yang mampu menahan pesona yang ditawarkan oleh alam kota Jogja, begitupun dengan kenikmatan sajian kulinernya yang selalu cocok di lidah setiap orang, membuat semua orang jatuh hati meski baru sekali mencicipi. Ada banyak makanan khas Jogja yang terkenal. Jika rata-rata penduduk Indonesia sudah familiar dengan gudeg, MakananOlehOleh.com akan mengajak kamu untuk berkenalan dengan kuliner khas kota Jogja lainnya yang tak kalah lezat dari hidangan gudegnya.

1. Bakmi Shibitsu

Saat berkunjung ke Kota Budaya, jangan lupa untuk mencicip bakmi yang populer bernama bakmi shibitsu. Bagi kamu penggemar bakmi wajib hukumnya untuk mencoba bakmi shibitsu. Bakmi shibitsu bisa ditemukan di Jl. Raya Bantul No. 106. Kedai Bakmi Shibitsu sudah berdiri sejak 25 tahun lalu dan hingga kini selalu ramai dikunjungi oleh para pelanggan setia bakmi ini.

Bakmi shibitsu adalah bakmi goreng yang mempunyai warna sedikit terang dibanding bakmi di tempat lain. Penggunaan kecap yang sedikit membuat bakmi shibitsu berwarna lebih cerah. Bakmi shibitsu terdiri dari dua jenis mie, yakn mie kuning dan bihun. Dalam satu mangkuk bakmi terdapat bahan pendamping seperti potongan-potongan kecil daging ayam dan taburan seledri.

2. Tiwul

Tiwul adalah makanan khas Jogja yang sangat terkenal di berbagai daerah lain di Indonesia, terutama di kota-kota di pulau Jawa. Tiwul adalah jajanan pasar tradisional yang digemari karena cocok untuk semua lidah masyarakat Indonesia. Jajanan pasar ini biasa dijual saat pagi hari hingga menjelang siang, meskipun ada juga penjual tiwul yang berkeliling di sore hari menjelang petang. Komposisi bahannya yang meskipun sedikit tapi sudah bisa membuat perut kenyang menjadi alasan kenapa tiwul selalu diburu penggemarnya.

Sajian utama pada tiwul adalah singkong yang sudah dijemur sampai kering atau biasa disebut gaplek. Gaplek kemudian ditumbuk halus dan dikukus sampai matang. Dahulu, tiwul sempat menjadi makanan pokok masyarakat dikarenakan harga beras yang terlampau mahal sehingga tidak mampu dibeli masyarakat. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan perut, pada masa lalu penduduk Indonesia, khususnya di kawasan Yogyakarta mengganti nasi dengan tiwul yang dimakan bersama lauk pauk dan sayuran.

3. Lotek Teteg

Lotek sejatinya adalah kuliner tradisional yang tersebar hampir di seluruh pulau Jawa. Namun bicara mengenai asal muasalnya, ada yang menganggap kalau lotek adalah makanan khas Sunda, tapi ada juga yang mengira lotek berasal dari daerah yang didominasi oleh orang Jawa, seperti Yogyakarta. Di Yogyakarta, ada lotek yang terkenal berupa lotek teteg yang dari segi tampilan dan isian menyerupai gado-gado yang terkenal dari tanah Betawi.

Lotek teteg bisa didapati di warung Lotek Teteg yang berada di Jl. Argolubang, Yogyakarta. Warung Lotek Teteg di kawasan tersebut terkenal lebih enak dibanding lotek teteg di kawasan Yogyakarta lain. Dalam sepiring lotek teteg berisikan banyak macam sayur seperti bayam, kacang panjang, irisan mentimun, dan daun seledri yang kemudian diguyur dengan bumbu kacang dengan level kepedasan yang bisa diatur sesuai keinginan. Lotek teteg bisa dimakan bersama nasi atau tidak, tergantung selera.

4. Bakmi Jawa

Makanan khas Yogyakarta berbentuk bakmi yang tak kalah terkenal dari bakmi shibitsu adalah bakmi jawa. Bakmi jawa hanyalah penamaan untuk kuliner berupa bakmi yang disajikan bersama ragam macam bahan tambahan yang tidak biasa ditemui pada bakmi di tempat lain. Bakmi jawa juga mempunyai ukuran yang lebih besar daripada mie yang dipakai pada bakmi lain.

Di dalam satu mangkuk bakmi jawa biasanya tersaji dengan irisan kembang kol dan daging ayam yang potongannya besar-besar. Selain itu juga terdapat tambahan bawang goreng untuk menghasilkan aroma yang lebih sedap. Bakmi jawa dimasak dengan metode tradisional, yakni menggunakan arang. Di Yogyakarta bisa ditemukan cukup banyak penjual bakmi jawa, sepertti di Bakmi Pele yang berlokasi di bagian tenggara alun-alun Yogyakarta.

5. Gatot

Kuliner asal kota Yogyakarta atau kota-kota lain yang didiami oleh kebanyakan penduduk Jawa banyak yang disajikan di atas selembar daun pisang, seperti tiwul dan gatot. Jika tadi sudah dibahas mengenai tiwul, maka yang dibahas berikutnya adalah gatot. Gatot adalah jajanan pasar berupa camilan yang dibuat dari bahan dasar ketela. Camilan tradisional satu ini mempunyai cita rasa manis dan legit di mulut. Biasanya gatot dimakan oleh sebagian penduduk Jogja yang bosan makan nasi.

Gatot lebih mudah ditemui di sekitaran objek wisata Gunung Kidul. Camilan khas masyarakat Jogja ini dijual dengan harga murah, hanya berkisar antara Rp10.000 – Rp20.000 saja. Untuk kamu yang belum tahu, makanan khas Jogja ini memerlukan proses fermentasi bahan terlebih dahulu hingga timbul jamur dan corak kehitaman sebelum dimakan. Saat bahan melewati proses fermentasi, bahan tersebut kemudian dikukus bersama gula merah untuk disajikan bersama parutan kelapa.

6. Oseng-oseng Mercon Bu Narti

Untuk penggemar kuliner pedas bisa mencoba kuliner satu ini, oseng-oseng mercon bu Narti namanya. Oseng-oseng bu Narti adalah makanan khas Yogyakarta yang mempunyai tingkat kepedasan tinggi. Makanan asli Indonesia ini pertama kali dibuat oleh ibu Narti pada tahun 1997 yang ketika itu hanya dijajakan di warung tenda kepunyaannya yang terletak di pinggir jalan. Dikarenakan nama dan rasanya yang unik, warung tenda ibu Narti kemudian dikenal dengan warung oseng-oseng mercon bu narti.

Oseng mercon sendiri merujuk pada hidangan berbahan dasar tetelan daging sapi [atau disebut koyor] yang dimasak dengan cara dioseng alias ditumis. Tetelan sapi tersebut kemudian diberi bumbu yang mengandung banyak cabai rawit sehingga memberikan cita rasa yang sangat pedas. Selain tetelan daging, oseng mercon juga bisa menghidangkan bahan lain seperti daging ayam, jeroan, ati ampela, dan kikil. Oseng mercon tidak bisa dimakan sendirian karena rasa pedasnya yang begitu terasa dikhawatirkan mengganggu kesehatan tubuh sehingga dalam penyajiannya harus ditemani dengan nasi putih dan minuman untuk menetralisir rasa pedas di mulut.

7. Jadah Tempe

Jadah tempe adalah makanan yang berasal dari kabupaten Sleman, Yogyakarta, atau tepatnya dari daerah lereng Gunung Merapi, Kaliurang. Makanan khas Jogja ini adalah makanan tradisional yang menggabungkan jadah dan tempe. Jadah sendiri merujuk pada panganan yang dibuat dari olahan ketan sedangkan tempe merujuk pada tempe itu sendiri yang diolah dengan cara dibacem. Dahulu jadah tempe menjadi makanan favorit Sultan Hamengkubowono IX.

Jadah tempe biasanya dikemas dalam daun pisang di mana pada setiap satu jadah berarti terdapat pula satu tempe yang menemani. Tapi semakin ke sini, ada juga orang yang menyantap dua jadah dengan satu tempe dengan menghimpit tempe menggunakan jadah sehingga mirip dengan burger. Makanan ini adalah ikon kuliner dari kawasan Kaliurang yang harus dicoba oleh setiap orang saat berkunjung ke sana. Jadah tempe selain nikmat ternyata juga dijual dengan harga yang terjangkau, yaitu antara Rp10.000 – Rp20.000 saja.

8. Belalang Goreng

Indonesia tidak hanya terkenal dengan makanan-makanan enak, tetapi juga unik. Jika di Papua ada makanan unik nan ekstrim berupa sate ulat sagu, di Yogyakarta juga terdapat makanan yang tak kalah uniknya, yakni belalang goreng. Belalang goreng adalah makanan khas Gunung Kidul, Yogyakarta. Belalang yang dipilih untuk digoreng adalah belalang kayu yang mudah ditemukan di daerah Gunung Kidul. Biasanya belalang kayu hinggap di dahan pohon jati atau semak-semak.

Menurut sebagian orang, daging belalang setelah digoreng mempunyai rasa seperti udang. Belalang mengandung protein tinggi sehingga baik untuk disantap semua orang. Tekstur dari belalang sendiri gurih dan renyah sehingga tak sedikit orang yang ketagihan dibuatnya. Belalang goreng diberi bumbu sederhana, seperti bawang putih, ketumbar, garam, dan cabai. Para wisatawan yang ingin mencicip belalang goreng bisa datang langsung ke pusat produksinya. Di Gunung Kidul bisa ditemukan penjual belalang goreng di pinggiran jalan ataupun melalui toko.

9. Sate Klatak

Tak sedikit orang yang mengira kalau sate klatak adalah sate katak karena namanya yang memang terdengar seperti katak. Padahal, sate klatak adalah daging kambing yang dibumbui oleh sejumlah rempah yang kemudian ditusuk menggunakan jeruji besi, bukan tusuk sate biasa semisal lidi. Di Yogyakarta terdapat warung Sate Klatak Pak Pong yang berlokasi di Pasar Jejeran, Jl. Imogiri Timur. Warung Sate Klatak Pak Pong buka setiap hari sejak pukul 10:00 – 24:00 WIB.

Sate klatak dianggap sebagai makanan khas Jogja yang unik karena menggunakan jari-jari roda sepeda untuk tusukannya. Tujuan penggunaan benda tersebut sebagai tusukan sate karena besi bisa menjadi penghantar panas yang baik sehingga saat proses pembakaran bagian dalam daging juga matang sempurna. Adapun keunikan lain dari sate klatak adalah bumbu yang digunakan. Jika sate daging umumnya dibumbui dengan aneka rempah, sate klatak hanya diberi garam dan sedikit ketumbar. Sate klatak biasanya disajikan bersama nasi, kuah gulai atau kecap, dan potongan cabai rawit.

10. Tengkleng Gajah

Jangan kamu kira kalau tengkleng gajah adalah makanan asal Yogyakarta yang menggunakan bahan dari bagian tubuh gajah. Gajah pada nama makanan ini adalah ukuran porsi penyajiannya yang besar sehingga disebut dengan porsi gajah. Tengkleng sendiri merujuk pada makanan sejenis sup dan gulai berisikan daging, jeroan, dan tulang kambing.

Untuk lebih jelasnya, tengkleng pada makanan khas Jogja ini merupakan olahan tulang daging kambing yang mempunyai ukuran besar. Dikarenakan ukuran yang besar itulah tengkleng kambing diijuluki dengan tengkleng gajah. Pada tulang kambing yang disajikan terdapat daging-daging yang menempel di luar tulang serta sumsum yang tersembunyi di dalam tulang. Untuk menikmati kuliner ini, tengkleng gajah bisa ditemukan di Warung Sari Roso Mulyo atau Warung Tengkleng Gajah yang terletak di Jl. Kaliurang.

11. Mie Lethek

Jogja juga mempunyai olahan mie yang patut dicoba oleh setiap orang yang berlibur ke kota berjuluk Kota Seni dan Budaya itu. Sajian tersebut bernama mie lethek yang merupakan mie produksi masyarakat Bantul, atau tepatnya di daerah Srandakan. Mie yang digunakan terbuat dari bahan dasar tepung tapioka dan gaplek. Dari segi tampilan mie lethek tampak tidak menarik, tapi dari segi rasa mie khas Jogja ini bisa dibilang juara.

Mie lethek bisa diolah menjadi mie rebus atau mie goreng. Mie yang mempunyai warna kotor [itulah alasan dinamakan dengan lethek] ini dibuat secara traidisonal tanpa menggunakan bahan kimia ataupun pewarna makanan. Mie lethek biasanya disajikan bersama telur bebek atau telur ayam kampung, suwiran ayam, dan sejumlah sayuran. Mie lethek dapat dimakan sebagai campuran nasi apabila ingin merasa lebih kenyang.

12. Soto Kadipiro

Jika Betawi punya soto khas, Jogja juga punya sajian soto bernama soto kadipiro. Soto kadipiro adalah kuliner legendaris di Jogja yang sekaligus menjadi makanan khas Jogja sejak tahun 1921. Hingga kini, soto kadipiro sudah membuka banyak cabang di sepanjang Jl. Wates. Warung soto kadipiro didirikan oleh bapak Karto Wijoyo pada tahun 1921. Ketika beliiau wafat pada tahun 1972, usaha sotonya kemudian dilanjut oleh bapak Widadi Dirjo Utomo.

Soto kadipiro begitu digemari masyarakat Jogja karena bumbu penyedap yang digunakan adalah hasil racikan sendiri yang mana resepnya asli dari bapak Karto Wijoyo. Dari tampilannya soto kadipiro juga sama dengan soto-soto lain di mana terdapat isian kol, suwiran ayam, tauge, seledri, dan bawang goreng. Penyajian soto kadipiro juga dilakukan bersama nasi dengan dampingan perkedel, tahu, tempe bacem, dan sate. Satu hal yang istimewa dari soto kadipiro, selain rasanya yang enak, menyantap soto di warung Soto Kadipiro Yogyakarta akan terasa dibawa ke masa lalu kota Jogya.

13. Mangut Lele

Jogja memang surga kuliner yang selalu berhasil menciptakan rindu dalam hati setiap orang. Berbagai makanan yang enak dan unik bisa ditemukan di Yogyakarta, seperti mangut lele. Mangut lele adalah makanan khas Jogja berbahan utama lele yang diberi bumbu mangut. Apa itu mangut? Mangut adalah bumbu yang diracik dari berbagai rempah yang ada di Jawa. Di Yogyakarta ada warung mangut lele yang terkenal yakni warung Mangut Lele Mbah Marto.

Mangut untuk membumbui lele berisikan campuran bawang putih, bawang merah, lengkuas, cabai, kunyit, dan jahe yang diulek. Kemudian untuk lelenya tidak digoreng melainkan dipanggang memakai bilah-bilah bambu. Para pelanggan mangut lele mbah Marto mengaku suka makan di warungnya. Bukan cuma dikarenakan mangut lelenya yang enak, tetapi juga keakraban dan keramahan mbah Marto terhadap setiap pembeli yang datang yang membuat banyak orang tak pernah mengurungkan niatnya untuk mengisi perut di warungnya.

14. Nasi Goreng Beringharjo

Nasi goreng adalah salah satu makanan yang sangat terkenal dan digemari oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Di Indonesia sendiri terdapat cukup banyak jenis-jenis nasi goreng, seperti di Yogyakarta ada nasi goreng beringharjo. Kelezatan nasi goreng beringharjo sudah dirasa sejak tahun 1960. Menurut SeputarJogjakarta, nasi goreng beringharjo adalah kuliner perpaduan Jawa dan Cina.

Dikarenakan makanan khas Jogja ini adalah kuliner hasil akulturasi Jawa dan Cina maka bumbu yang digunakan didominasi oleh bawang putih dan kecap yang mana menjadi bumbu khas Cina. Dalam satu piring nasi goreng beringharjo berisikan banyak bahan seperti irisan kol, daun seledri, telur dadar, potongan tomat, dan acar serta cabe sebagai pelengkap. Untuk mereka yang penasaran dengan makanan legendaris kota Jogja ini, nasi goreng beringharjo bisa ditemukan di kawasan Pasar Beringharjo, Taman Sari, Maliboro, dan Keraton Jogja.

15. Brongkos

Brongkos adalah kuliner berkuah yang cukup terkenal di Yogyakarta. Makanan ini mempunyai warna kuah yang hitam akibat penggunaan kluwak yang dicampur dengan santan. Di Yogyakarta sendiri ada cukup banyak warung makan yang menjajakan brongkos, tapi yang pertama berdiri adalah Warung Makan Bu Rini yang berlokasi di kampung Taman, kelurahan Patehan, kecamatan Kraton, yang sudah berdiri sejak tahun 1973.

Brongkos biasa disajikan bersama nasi hangat. Adapun untuk isian dari sayur brongkos antara lain kacang tolo, tahu, telur, dan koyor. Untuk telur dan koyornya tergantung keinginan pembeli. Kuliner tradisional Yogyakarta ini mempunyai rasa yang gurih berpadu pedas dari bumbu cabai rawit yang dibiarkan utuh saat dimasak. Selain disajikan dengan nasi, brongkos juga didampingi dengan lauk tambahan seperti tempe goreng, perkedel, peyek, kerupuk karak, dan lauk lain.

16. Sate Kere

Selain sate klatak ada juga makanan khas Jogja berjenis sate lain yang tak kalah terkenal dengan sate klatak, yakni sate kere. Sate kere adalah kuliner unik yang berada di bagian selatan Pasar Beringharjo. Bagi yang belum tahu, sate kere adalah sate gajih sapi yang diberi bumbu rempah khusus yang kemudian dibakar sebagaimana proses pematangan sate pada umumnya.

Saat dibakar aroma sate akan menyesap ke hidung, membuat setiap orang yang menghirum aromanya seakan diajak singgah sebentar untuk menyantapnya. Sate kere biasa disajikan bersama kecap manis dan sambal. Selain di Jogja, sate kere juga bisa ditemukan di Solo. Bedanya, sate kere di Solo menggunakan bahan dasar tempe gembos dan berkuah santan.

17. Nasi Goreng Kalkun

Orang Jogja yang sudah bosan dengan nasi goreng beringharjo biasanya melipir ke nasi goreng kalkun. Nasi goreng kalkun bisa ditemukan di rumah makan di Jl. Kaliurang. Hidangan satu ini sama seperti nasi goreng pada umumnya. Bedanya, nasi goreng kalkun dimasak bergaya masakan Cina yang kering alias tidak nyemek atau basah. Untuk rasanya tak perlu diragukan lagi.

Menurut sejumlah warga Jogja, nasi goreng kalkun mempunyai tipikal menu masakan Jawa, yakni manis. Tapi jika kebetulan yang memesan adalah penyuka makanan pedas, nasi goreng bisa diatur level kepedasannya. Kemudian untuk daging kalkunnya biasanya berukuran besar-besar. Daging kalkun mempunyai tekstur lembut. Seporsi nasi goreng kalkun biasa disajikan bersama lauk pendamping seperti irisan tomat, timun, dan kembang kol.

18. Sup Merah

Untuk penyuka makanan yang unik maka wajib mencoba sup merah. Jika selama ini sup biasa tersaji dengan kuah bening maka makanan khas Jogja ini memberikan sentuhan inovasi sehingga warna kuah supnya merah. Warna merah pada kuah sup dihasilkan dari pencampuran pasta cabai yang selain pedas ternyata juga memberikan cita rasa gurih yang menggigit di lidah.

Sup merah sendiri bisa didapat di Warung Sup Merah Bu Asih atau Warung Sup Merah Tungkak yang berada di Pertigaan Lampu Merah Tungkak. Hidangan unik ini berisikan cukup banyak lauk tambahan seperti suwiran daging dan ceker ayam, telur rebus, irisan kubis, wortel, daun seledri, dan daun bawang. Makan sup merah paling enak saat malam hari di mana hawa dingin menyelimuti kota Jogja.

19. Nasi Kucing

Nasi kucing atau sego kucing adalah makanan khas Jogja yang fenomenal di Indonesia. Selain di Jogja, nasi kucing saat ini sudah banyak dijual di kota-kota lain, biasanya dijual di gerobak atau yang biasa disebut angkringan. Di Jogja sendiri, nasi kucing digemari oleh masyarakatnya. Penggemar nasi kucing juga tak mengenal usia, mulai dari yang muda hingga tua semuanya suka.

Untuk kamu yang belum tahu apa itu nasi kucing, nasi kucing adalah kuliner tradisional yang menghidangkan nasi dengan porsi sedkit bersama tambahan lauk yang sederhana seperti tempe, ikan, dan sambal. Selain lauk tersebut bisa juga ditambahkan telur, ayam, dan irisan mentimun. Penyajian nasi kucing biasanya dilakukan di atas alas daun pisang.

20. Sego Abang Lombok Ijo

Dalam bahasa Jawa, sego abang berarti nasi merah, sedangkan lombok ijo berarti cabai hijau. Jadi sego abang lombok ijo merujuk pada makanan berupa nasi yang berwarna merah dengan sambal hijau. Di Yogyakarta makanan ini bisa didapati di warung Sego Abang Lombok Ijo Mbah Widji yang terletak di Jl. Pekam-Turi, dusun Mangunan, desa Harjobinangun, kecamatan Turi, kabupaten Sleman.

Pada seporsi sego abang lombok ijo terdapat nasi berwarna merah yang dihidangkan bersama sayur lodeh cabai hijau. Untuk lauk tambahan lainnya bisa dipilih sesuai selera, seperti ayam kampung goreng, tempe, tahu, pepes, botok, empal goreng, dan gudeg daun pepaya. Cita rasa dari sego abang lombok ijo pedas dan gurih. Biasanya pada seporsi sego abang juga ditambahkan sambal bawang untuk menambah nafsu makan.

21. Kipo

Makanan khas Jogja ini terdengar unik. Kipo, apa itu? Kipo adalah makanan yang berasal dari Kotagede, salah satu wilayah yang masih berada di dalam kota Yogyakarta. Kipo biasa dimakan oleh masyarakat Jogja sebagai camilan atau kudapan bersama secangkir minuman hangat. Kipo terbuat dari bahan utama tepung beras ketan yang diberi pewarna alami hijau dari daun pandan. Bentuk dari kipo lonjong.

Kipo mempunyai cita rasa manis dengan tekstur yang legit. Rasa manis yang dimiliki oleh makanan ini dihasilkan dari gula jawa. Gula jawa biasanya dicampur dengan parutan kelapa untuk kemudian dibungkus dengan tepung beras ketan. Kipo dimasak dengan cara tradisional, yakni di atas wajan dari tanah liat yang dipanaskan menggunakan arang. Kipo biasa dibeli sebagai oleh-oleh atau teman perjalanan. Jika dijadikan oleh-oleh, perlu diketahui kalau kipo tidak bisa bertahan lama.

22. Sate Petir

Di Jogja ada banyak macam sate yang bisa menggoyang lidah. Jika sebelumnya ada sate klatak dan sate kere, maka ada lagi sate jenis lainnya yang bernama sate petir. Kuliner khas Jogja ini bisa diperoleh dengan mendatangi warung Sate Petir Pak Nano yang berada di sebelah timur jembatan kali Bedok. Warung Sate Petir Pak Nano buka dari jam 12 siang sampai jam 4 sore. Satu porsi sate petir bersama nasi dan minuman hanya dijual dengan harga Rp24.000.

Sate ini dinamakan sate petir karena mempunyai rasa pedas yang menyengat lidah. Penggunaan cabai untuk bumbu bisa diatur sesuai keinginan, bisa dari 2 sampai 25 cabai. Daging yang digunakan untuk sate petir adalah daging kambing. Daging kambing di warung Sate Petir Pak Nano mempunyai tekstur yang lembut dan tidak berbau amis. Menyantap satu porsi sate petir akan menambah pengalaman baru pada lidah setiap orang.

23. Sate Kuda

Jika daging ayam dan sapi sudah terbiasa dijadikan sate, maka di Jogja ada sate yang menggunakan daging kuda. Unik, bukan? Meskipun makanan khas Jogja ini dianggap aneh, tapi pada kenyataannya banyak orang yang gemar menyantap sate kuda. Biasanya mereka yang menyantap sate kuda tahu kelebihan dari daging kuda, yakni mampu menyembuhkan penyakit rematik, asma, pegal-pegal, flek paru-paru, eksim, epilepsi, dan masih banyak lagi.

Di Jogja ada beberapa warung sate kuda, salah satunya adalah warung Sate Kuda Gondolayu yang berada di sebelah barat jembatan Gondolayu atau jembatan Jenderal Sudirman. Di warung tersebut bukan hanya daging kuda yang disajikan, tetapi ada juga torpedo yang mempunyai khasiat untuk mengobati sesak nafas dan meningkatkan vitalitas pria.

24. Entok Slenget

Entok atau itik adalah hewan yang biasa diolah sebagai masakan. Seperti di Jogja, ada olahan entok bernama entok slenget yang tersohor. Penjual entok slengket, kang Tanir, dikenal ahli untuk dalam hal mengolah entok yang dagingnya terkenal alot. Entok yang diolah oleh kang Tanir biasanya diberi bumbu pedas yang cukup menantang lidah.

Warung entok kang Tanir berada di Pasar Agropolitan Pules, Turi. Di warung tersebut, entok tak hanya dijadikan hidangan utama, melainkan ditemani dengan bagian entok lain seperti hati ampela dan balungan entoknya juga diolah. Untuk porsi balungannya sendiri lebih banyak dibanding daging entoknya.

25. Sate Buntel

Sate buntel pertama kali dibuat oleh Lim Hwa Youe, tepatnya pada tahun 1948 Lim membuat inovasi sate. Jika pada umumnya daging sate ditusuk, Lim justru mencacah sate dan dibuntel dengan lemak kambing. Makanan ini merupakan kuliner kreatif yang mengubah kesederhanaan menjadi kemewahan, sama seperti asal muasal tengkleng yang mengolah sisa daging yang menempel pada tulang menjadi sajian lezat.

Sate buntel memanfaatkan bagian daging kambing yang teksturnya keras kemudian dicacah hingga lembut. Tujuan pencacahan tersebut agar daging bisa dinikmati dalam keadaan tidak keras. Daging yang telah dicacah kemudian dibungkus atau dibuntel dengan lemak kambing yang selanjutnya dibakar dengan bumbu rempah yang mewangi. Menyajikan sate buntel berbeda dengan sate umumnya. Jika biasanya daging harus ditarik dulu dari tusuk sate, sate buntel tidak, melainkan langsung dilahap bersama nasi dan sambal.

26. Kicak

Kicak adalah makanan khas Jogja yang tidak muncul setiap waktu, tetapi hanya setahun sekali, tepatnya saat bulan Ramadhan tiba. Di kota Jogja kicak hanya bisa ditemukan di kawasan Kauman yang biasanya di setiap sore ada pasar Ramadhan yang di mana banyak terdapat penjual kicak di sana. Kicak sendiri merupakan panganan yang terbuat dari jadah, gula, parutan kelapa, nangka, pandan, dan vanili.

Kicak mempunyai cita rasa yang manis, asin, dan gurih yang ditambah dengan kelembutan tekstur ketannya. Makanan tradisional khas Yogyakarta ini dijual dengan harga yang bersahabat, mulai dari Rp2.000 saja. Di pasar Ramadhan sendiri pengunjung bisa mendapatkan makanan selain kicak, tetapi juga garang asam, martabak, carang gesing, clorot, dan hidangan tradisional lain.

Itulah makanan khas Jogja selain gudeg yang bisa dicoba ketika berada di Kota Budaya. Di samping menu gudeg yang sudah mendunia, Jogja masih memiliki jajaran kuliner enak lain selain gudeg. Namun tak bisa dipungkiri memang kalau orang lebih mengenal Jogja dengan sajian gudegnya, sehingga kota yang dikenal akan keramahan penduduknya itu juga mendapat julukan sebagai Kota Gudeg oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Leave a Reply